Menulis untuk Amal Jariyah
Menulis untuk Amal Jariyah
Yang bikin saya mikir lama adalah poin tentang persiapan yang sudah dilakukan sebelum kematian itu datang. Bagaimana caranya agar masih ada aliran pahala kepada kita walau kelak kita sudah wafat.
Penulisnya mengambil ibrah/hikmah dari hadits yang mengatakan kalau seseorang meninggal dunia, ada tiga amalan yang tidak akan terputus, yaitu (1) anak shalih/shalihah yang mendoakan (2) sedekah jariyah yang terus mengalir, dan (3) ilmu yang bermanfaat.
Kalau anak shalih-shalihah yang mendoakan terkhusus untuk para orang tua yang sudah memiliki anak, maka seriuslah mendidiknya, ajarkan tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Kenalkan Islam, tauhid, masjid, dan value kebaikan kepada anak-anak sedari kecil sebagai ikhtiar mendidik mereka menjadi shalih. Sebagai orang tua pun harus mau meng-upgrade ilmunya, harus mau belajar agama. Karena cara yang efektif dalam mendidik anak adalah mendidik dengan keteladanan. Gimana caranya menyuruh anak laki-laki sholat ke masjid, tapi ayahnya malah gak ke masjid. Nah, begini maksud mendidik dengan keteladanan ini.
Kalau sedekah jariyah (wakaf) yang pahalanya bisa terus mengalir, kita bisa terlibat dalam program atau proyek sosial. Misal, mendirikan Rumah Qur'an, membuat sumur/mata air, membuat rumah yatim atau kalau belum bisa skala besar, kita bisa ikut wakaf semen, wakaf keramik, wakaf besi atau sesuaikan dengan kemampuan kita. Intinya kita mulai pikirkan untuk terlibat dalam proyek sosial yang tetap berjalan walau kelak kita telah tiada.
Nah, yang bikin saya mikir agak lama itu poin ketiga ini, "ilmu yang bermanfaat". Saya mikir agak lama hal apa yang bisa saya bagikan kepada banyak orang. Dalam buku itu, penulisnya bilang, bisa dengan bikin konten di Youtube, konten di media sosial (konten-konten kebaikan ya), bisa ngajarin skill/ilmu ke orang lain, atau bisa dengan menulis. Sepertinya "jalan menulis" ini yang bisa saya ambil dan maksimalkan. Karena saya suka menulis dan suka membaca.
Setelah saya pertimbangkan cukup lama, sepertinya mengaktifkan kembali blog ini adalah cara yang bisa saya lakukan. Blog ini saya buat sekitar tahun 2013 lalu. Ternyata tulisan-tulisan lama saya dulu masih ada di blog ini. Artinya, kalau tulisan belasan tahun lalu masih ada, jika saya menulis hari ini, kemungkinan belasan tahun atau bahkan puluhan tahun ke depan juga masih ada tulisan saya. Selama situs ini aktif dan internet masih ada.
Maka dari itu, ke depan, insya Allah, saya akan kembali aktif menulis di blog ini. Tulisan-tulisan kebaikan sebisa dan semampu saya. Sebagai ikhtiar menulis untuk amal jariyah. Doakan ya agar saya bisa terus menulis. Menulis sebagai pengingat/nasihat untuk diri saya sendiri dan sebagai ikhtiar untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat agar bisa jadi amal jariyah.
Bumi Allah, 14 September 2026
Pukul 10.19 WIB
Penyesalan Saat Usia 40 Tahun
Coba bayangkan pada saat ini usiamu sudah 40 tahun. Bayangkanlah hal-hal apa saja yang akan kamu sesali saat masih usia 20-an tahun dulu yang berdampak pada hidup, karier, dan kesehatanmu.
1. Sering bermalas-malasan?
Bayangkanlah hal-hal tersebut dan kamu menyesalinya saat berusia 40 tahun nanti.
Kawan, mumpung saat ini usia kita masih 20-an tahun. Penyesalan masa tua itu bisa diantisipasi dari sekarang.
Gimana caranya?
Kalau menyesal bermalas-malasan, ubahlah hal itu. Lawan kemalasanmu sekuat tenaga dengan memiliki tujuan hidup yang jelas dan terarah.
Kalau menyesal karena hidup boros. Mulai belajar mengatur keuangan dan mengendalikannya.
Kalau menyesal tidak membiasakan ibadah wajib. Mulailah melaksanakannya dari sekarang.
Semua itu bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri.
Gimana hidupmu, bergantung bagaimana kamu. Kamu yang mengubahnya, kamu yang memperjuangkannya, kamu yang menikmatinya, dan kamu juga yang akan menyesalinya nanti.
Setiap orang akan bertanggung jawab dengan hidupnya masing-masing.
Penyesalan Suatu Hari Nanti
Kalau saja saat usia muda dulu, aku serius memperjuangkan impianku. Aku berani mencobanya. Aku tidak peduli dengan omongan negatif orang lain. Aku tidak terlalu banyak bermain-main. Aku tidak membuat-buat alasan yang menghambat perkembangan diriku. Aku serius untuk belajar. Aku tidak takut kalau gagal. Aku bersungguh-sungguh untuk berjuang. Mungkin saja, ada jalan hidup yang lebih baik untukku saat ini.
Kalau saja saat usia muda dulu. Aku
menjaga pola makanku. Aku tidak berlebihan dalam mengonsumsi gula, minyak, dan
segala hal yang memang tidak boleh berlebihan. Aku rutinkan olahraga tiap hari
walau tidak lama. Mungkin saja, tubuhku saat ini lebih sehat dan tidak
sakit-sakitan seperti saat ini.
Kalau saja saat usia muda dulu, Aku
menjaga pola tidurku. Aku tidak sering begadang. Kalau capek, aku sempatkan
istirahat. Bukan terus-terusan memaksa tubuhku ini. Mungkin saja, keadaanku
saat ini lebih baik.
Kalau saja saat usia muda dulu, Aku
sudah mulai memperbaiki diriku dan memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Tidak
meninggalkan kewajiban dari-Nya. Aku yakin, aku akan lebih tenang dalam
menjalani hidup ini. Sebab, aku punya Tuhan. Aku punya tujuan sejati yang bukan
sekadar mengejar duniawi. Namun, saat tubuh ini mulai ringkih dan
sakit-sakitan. Barulah aku mengingat-Nya. Itu pun aku masih salat dengan
terburu-buru di sisa-sisa waktuku.
Kalau saja saat usia muda dulu.
Aku tidak foya-foya. Aku tidak membeli sesuatu yang sebenarnya aku tidak
benar-benar butuh. Terkadang yang kubeli itu hanya sekadar ingin menunjukkan
bahwa “inilah aku”. Aku ingin diakui karena punya barang ini dan itu. Aku tidak
belajar bagaimana memanajemen keuangan. Mungkin saja, aku punya tabungan yang
cukup untuk keluarga dan menyekolahkan anak-anakku saat ini yang biayanya
semakin hari semakin mahal.
Namun, aku yakin. Aku masih punya
waktu untuk memperbaiki itu semua. Mulai dari sekarang ini ....
IG: @robiafrizan
Mahasiswa dan Kebingungan Pascakampus
Satu hal yang harus benar-benar kamu pahami, untuk sampai di puncak (karier) itu butuh waktu bertahun-tahun. Enggak ada proses yang instan. Agar kamu bisa sampai, maka kamu harus memulai. Bukan dengan terus menunda-nundanya. Bidang apa pun yang kamu pilih, semua berpotensi. Tinggal kamu mau serius menekuninya atau tidak saja.
Satu Januari
Kekhawatiran Pada Masa Depan
Sebuah Rantai atau Tali dari Gulungan Tisu
06.04 Wib
Ya Allah, Kenapa Hatiku Sering Gelisah
![]() |
| Ya Allah, Kenapa Hatiku Sering Gelisah |
Pembelian spesial tanda tangan penulis bisa mengisi format ini: Nama Lengkap - Alamat Lengkap - Judul Buku yang Dipesan - Jumlah Pemesanan - No. HP lalu kirimkan ke 081365674102 (WhatsApp) atau DM ke Instagram @robiafrizan1


