Usia 30-an

 

Masuk usia 30-an seolah melihat banyak hal yang terjadi di sekitar.

Ada teman yang berkarier di luar negeri, ada yang memutuskan pulang kampung, ada yang tetap bertahan di kota perantauan, ada yang sudah menikah dan punya anak, ada yang bercerai, ada yang belum menikah, ada yang sudah meninggal dunia, ada yang tersandung kasus hukum dan pidana, ada yang terjerat utang yang tak sedikit, ada yang bisnisnya berkembang pesat, ada yang jadi pejabat di pemerintahan, ada yang hijrah total dari masa lalunya, ada pula yang terlepas dari jalan hijrahnya dulu, ada yang resign dan berganti pekerjaan, ada yang tetap bertahan walau berat, dan kondisi-kondisi lainnya.

Saat memandang itu semua, baru menyadari ternyata takdir setiap orang tidak sama. Ternyata setiap orang sedang berjuang dengan jalan hidupnya masing-masing. Jalan hidup yang mungkin dulu tak pernah diharapkannya, tapi mau tidak mau, saat ini harus dihadapinya.

Jangan pernah jahat kepada siapa pun. Jangan menzalimi orang lain. Belajarlah untuk berempati kepada siapa pun. Karena kita tidak pernah tahu seberat apa hidup yang sedang dijalaninya. 

Baik-baik jadi orang. Jadilah orang baik. Sebisa mungkin mengajak pada kebaikan. Semaksimal mungkin untuk berbuat baik. Tidak akan pernah rugi menjadi orang baik. Karena yang kita harapkan bukanlah balasan dari manusia, tapi cukup ridho dari Allah saja. Semoga kelak itu semua bisa jadi amal baik yang menyelamatkan kita. Karena akan ada lagi kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Bumi Allah, 24 September 2026


Agar Terpacu Semangat untuk Masa Depan

 

Agar Terpacu Semangat untuk Masa Depan


Pernah merasa kehilangan spark hidup? Kehilangan gairah, semangat, motivasi, atau antusiasme untuk mengejar sesuatu? Terlebih soal masa depan.

Rasanya hidup "jalan di tempat" atau gak maju-maju. Karier stagnan, penghasilan pas-pasan, atau susah sekali merasa untuk berkembang ke depannya.

Ada tips yang mungkin bisa memacu semangatmu untuk lebih bergairah mengejar masa depan yang kamu impikan. 

Tipsnya adalah ...

Coba bayangkan 5 tahun ke depan, kira-kira dengan kondisi dan posisi seperti saat ini, lima tahun ke depan apakah hidupku akan berubah? Apakah ada target-target yang akan tercapai? Misal, target membeli properti, membeli kendaraan, menikahi seseorang, berangkat umrah, daftar haji khusus, atau target lainnya? Atau 5 tahun ke depan sepertinya akan sama saja dengan kondisi pada hari ini?


Biasanya nurani (suara hati) akan berbisik dan memberikan jawaban kecenderungan. Kalau suara hatimu mengatakan sepertinya kondisi 5 tahun ke depan akan sama saja dengan kondisimu saat ini.

Artinya kamu harus melakukan sesuatu yang berbeda sesegera mungkin. Membuat keputusan baru, keputusan yang akan mengubah arah hidupmu, terlebih arah hidup 5 tahun lagi.

Kalau rasanya pekerjaan saat ini hanya bisa menopang kebutuhan primer saja, sulit untuk menabung. Berarti harus ada keputusan yang kamu ambil agar bertambahnya sumber pemasukan. 

Membuat keputusan ini biasanya akan berat. Akan banyak alasan A, B, C yang membuatmu merasa takut: bagaimana kalau gagal, bagaimana kalau rugi, bagaimana, dan bagaimana lainnya.

Tapiii ingat juga, bagaimana kalau berhasil?

Kalau kamu mencoba, kamu punya dua kemungkinan: bisa gagal dan bisa berhasil.

Kalau kamu takut dan tidak mencoba, kamu hanya punya satu kemungkinan, yaitu pasti gagal.

Nah, coba refleksi dan evaluasi. Kira-kira dengan kondisiku seperti saat ini apakah 5 tahun ke depan akan ada yang berubah dari hidupku? Atau akankah sama saja? Coba dengarkan suara hati terdalammu, lalu segera buatlah keputusan baru yang akan mengubah arah hidupmu.

Bismillah. Insya Allah bisa. Yakinlah, masa depan beberapa tahun yang akan datang bergantung dengan keputusan apa yang kamu buat hari ini.

Bumi Allah, 24 September 2026

Cara Agar Bangun Sebelum Subuh


 Cara Agar Bangun Sebelum Subuh


Mungkin sebagian orang masih kesulitan untuk bangun sebelum subuh. Padahal bangun sebelum subuh bisa bikin badan terasa lebih fresh dan kita bisa menikmati udara subuh yang segar. Terutama bagi seorang muslim, ada kewajiban sholat subuh yang harus ditunaikan.

Berikut beberapa tips yang bisa dicoba agar bisa bangun sebelum subuh, minimal bisa bangun 30 menit sebelum azan subuh.

1. Pasang Niat dan Lisankan (Ucapkan)
Sebelum tidur malam, kita bisa memasang niat untuk bangun sebelum subuh. Niat tersebut ucapkan, gerakkan bibirnya, lalu tekadkan bahwa kita benar-benar ingin bangun sebelum subuh. Bisa untuk niat sholat tahajud, mau ngejar sholat sunnah dua rakaat sebelum subuh, atau ingin sholat jamaah ke masjid, atau bahkan niat ingin beres sholat subuh mau olahraga dulu sekitar 20 menit sebelum beraktivitas. 

Saat kita telah meniatkan hati dan bertekad mau bangun sebelum subuh, insya Allah ada semacam "pertolongan Allah" untuk membangunkan kita. Bisa tiba-tiba pengen pipis atau terdengar bunyi sesuatu yang membuat kita terbangun. Nah, kalau udah bangun gini, usahakan duduk, ambil minum. Jangan rebahan lagi karena rawan akan ketiduran.

2. Tidur lebih awal dengan tidak lihat HP
Kalau memang tidak ada lagi hal penting yang mau diurus malam hari, segera aja tidur. Kondisikan diri sebelum tidur dengan cara sikat gigi, wudu, lampu kamar dimatikan atau lampu kecil aja, lalu usahakan untuk tidak lagi lihat HP sekitar 30 menit sebelum tidur. Tujuannya agar pas bangun lebih fresh. Sering kita bangun tidur, tapi rasanya capek banget dan malas? Nah, bisa jadi itu efek karena sebelum tidur mata kita masih menatap layar HP.

3. Pasang alarm dengan cerdas
Maksud cerdas ini, sound alarm yang digunakan sebaiknya sound penanda jam ketika alarm itu berbunyi. Misal, kamu mau menyalakan alarm jam 04.00 WIB, pakailah sound yang kamu akan sadar bahwa ketika berbunyi itu menandakan sudah pukul 4 pagi. 

Saya biasanya menggunakan sound rekaman suara anak saya yang bunyinya itu dia bilang, "Ayah... ayo bangun, sudah jam 4 subuh." Nah ketika saya mendengar sound itu, reflek pikiran saya tahu bahwa sudah jam 4 subuh. Bedanya kalau pakai sound "umum" seperti lagu-lagu, nada dering, dll. itu kita gak tahu pas bunyi itu jam berapa, biasanya kita akan reflek mematikan alarm dan lanjut tidur lagi. 

Bisa juga letakkan HP agak jauh dari tempat tidur, jadi ketika alarm bunyi, untuk mematikan itu kita perlu berjalan dulu. Otomatis kalau sudah bergerak, kita lebih bisa untuk menahan diri untuk gak tidur lagi.

4. Kalau udah bangun, ya bangun!
Kemungkinan orang akan ketiduran lagi pas alarm udah bunyi. Dia matikan alarm dan lanjut tidur.

Dia beralasan "wah nanti akan ada alarm berikutnya nih, tidur dulu aja bentar". 

Eh tahu-tahu malah kebablasan dan tidur lagi. Pas bangun lagi nanti, pasti suasana hati udah gak enakan dan menyesal. 

Karena itu, kalau udah terbangun dari tidur lelap itu, usahakan duduk, minum air putih, dua atau tiga menit setelahnya langsung ke kamar mandi untuk wudu dan mengondisikan diri untuk sholat.

Barangkali empat tips di atas bisa dicoba dulu ya. Semoga ampuh dan bermanfaat! 😊

Bumi Allah
21 September 2026

Menulis untuk Amal Jariyah


Menulis untuk Amal Jariyah


Pekan awal September 2026 lalu, saya baru selesai membaca buku berjudul "Muslim Produktif" karya Mohammed Faris.

Pada bagian terakhir buku itu cukup berkesan dan bikin saya mikirrr agak lama. Judul bab terakhirnya adalah "Produktivitas Setelah Kematian".

Yang bikin saya mikir lama adalah poin tentang persiapan yang sudah dilakukan sebelum kematian itu datang. Bagaimana caranya agar masih ada aliran pahala kepada kita walau kelak kita sudah wafat.
Penulisnya mengambil ibrah/hikmah dari hadits yang mengatakan kalau seseorang meninggal dunia, ada tiga amalan yang tidak akan terputus, yaitu (1) anak shalih/shalihah yang mendoakan (2) sedekah jariyah yang terus mengalir, dan (3) ilmu yang bermanfaat.

Kalau anak shalih-shalihah yang mendoakan terkhusus untuk para orang tua yang sudah memiliki anak, maka seriuslah mendidiknya, ajarkan tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Kenalkan Islam, tauhid, masjid, dan value kebaikan kepada anak-anak sedari kecil sebagai ikhtiar mendidik mereka menjadi shalih. Sebagai orang tua pun harus mau meng-upgrade ilmunya, harus mau belajar agama. Karena cara yang efektif dalam mendidik anak adalah mendidik dengan keteladanan. Gimana caranya menyuruh anak laki-laki sholat ke masjid, tapi ayahnya malah gak ke masjid. Nah, begini maksud mendidik dengan keteladanan ini.

Kalau sedekah jariyah (wakaf) yang pahalanya bisa terus mengalir, kita bisa terlibat dalam program atau proyek sosial. Misal, mendirikan Rumah Qur'an, membuat sumur/mata air, membuat rumah yatim atau kalau belum bisa skala besar, kita bisa ikut wakaf semen, wakaf keramik, wakaf besi atau sesuaikan dengan kemampuan kita. Intinya kita mulai pikirkan untuk terlibat dalam proyek sosial yang tetap berjalan walau kelak kita telah tiada.

Nah, yang bikin saya mikir agak lama itu poin ketiga ini, "ilmu yang bermanfaat". Saya mikir agak lama hal apa yang bisa saya bagikan kepada banyak orang. Dalam buku itu, penulisnya bilang, bisa dengan bikin konten di Youtube, konten di media sosial (konten-konten kebaikan ya), bisa ngajarin skill/ilmu ke orang lain, atau bisa dengan menulis. Sepertinya "jalan menulis" ini yang bisa saya ambil dan maksimalkan. Karena saya suka menulis dan suka membaca.

Setelah saya pertimbangkan cukup lama, sepertinya mengaktifkan kembali blog ini adalah cara yang bisa saya lakukan. Blog ini saya buat sekitar tahun 2013 lalu. Ternyata tulisan-tulisan lama saya dulu masih ada di blog ini. Artinya, kalau tulisan belasan tahun lalu masih ada, jika saya menulis hari ini, kemungkinan belasan tahun atau bahkan puluhan tahun ke depan juga masih ada tulisan saya. Selama situs ini aktif dan internet masih ada.

Maka dari itu, ke depan, insya Allah, saya akan kembali aktif menulis di blog ini. Tulisan-tulisan kebaikan sebisa dan semampu saya. Sebagai ikhtiar menulis untuk amal jariyah. Doakan ya agar saya bisa terus menulis. Menulis sebagai pengingat/nasihat untuk diri saya sendiri dan sebagai ikhtiar untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat agar bisa jadi amal jariyah.

Bumi Allah, 14 September 2026
Pukul 10.19 WIB



Penyesalan Saat Usia 40 Tahun



Coba bayangkan pada saat ini usiamu sudah 40 tahun. Bayangkanlah hal-hal apa saja yang akan kamu sesali saat masih usia 20-an tahun dulu yang berdampak pada hidup, karier, dan kesehatanmu.


1. Sering bermalas-malasan? 
2. Takut untuk membuat keputusan? 
3. Tidak membiasakan ibadah wajib? 
4. Takut keluar dari zona nyamanmu? 
5. Tidak membiasakan olahraga? 
6. Berlebihan mengonsumsi gula dan makanan berminyak? 
7. Hidup boros dan tidak punya tabungan? 
8. Tidak memiliki sumber penghasilan tambahan? 
9. Bergaul dengan orang-orang yang salah? 
10. Terlalu mengikuti gaya hidup dan konsumtif? 
11. Atau apa?


Bayangkanlah hal-hal tersebut dan kamu menyesalinya saat berusia 40 tahun nanti.

Kawan, mumpung saat ini usia kita masih 20-an tahun. Penyesalan masa tua itu bisa diantisipasi dari sekarang.

Gimana caranya?

Kalau menyesal bermalas-malasan, ubahlah hal itu. Lawan kemalasanmu sekuat tenaga dengan memiliki tujuan hidup yang jelas dan terarah.

Kalau menyesal karena hidup boros. Mulai belajar mengatur keuangan dan mengendalikannya.

Kalau menyesal tidak membiasakan ibadah wajib. Mulailah melaksanakannya dari sekarang.
Semua itu bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri.

Gimana hidupmu, bergantung bagaimana kamu. Kamu yang mengubahnya, kamu yang memperjuangkannya, kamu yang menikmatinya, dan kamu juga yang akan menyesalinya nanti.
Setiap orang akan bertanggung jawab dengan hidupnya masing-masing.


Penyesalan Suatu Hari Nanti

Kalau saja saat usia muda dulu, aku serius memperjuangkan impianku. Aku berani mencobanya. Aku tidak peduli dengan omongan negatif orang lain. Aku tidak terlalu banyak bermain-main. Aku tidak membuat-buat alasan yang menghambat perkembangan diriku. Aku serius untuk belajar. Aku tidak takut kalau gagal. Aku bersungguh-sungguh untuk berjuang. Mungkin saja, ada jalan hidup yang lebih baik untukku saat ini.

Kalau saja saat usia muda dulu. Aku menjaga pola makanku. Aku tidak berlebihan dalam mengonsumsi gula, minyak, dan segala hal yang memang tidak boleh berlebihan. Aku rutinkan olahraga tiap hari walau tidak lama. Mungkin saja, tubuhku saat ini lebih sehat dan tidak sakit-sakitan seperti saat ini.

Kalau saja saat usia muda dulu, Aku menjaga pola tidurku. Aku tidak sering begadang. Kalau capek, aku sempatkan istirahat. Bukan terus-terusan memaksa tubuhku ini. Mungkin saja, keadaanku saat ini lebih baik.

Kalau saja saat usia muda dulu, Aku sudah mulai memperbaiki diriku dan memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Tidak meninggalkan kewajiban dari-Nya. Aku yakin, aku akan lebih tenang dalam menjalani hidup ini. Sebab, aku punya Tuhan. Aku punya tujuan sejati yang bukan sekadar mengejar duniawi. Namun, saat tubuh ini mulai ringkih dan sakit-sakitan. Barulah aku mengingat-Nya. Itu pun aku masih salat dengan terburu-buru di sisa-sisa waktuku.

Kalau saja saat usia muda dulu. Aku tidak foya-foya. Aku tidak membeli sesuatu yang sebenarnya aku tidak benar-benar butuh. Terkadang yang kubeli itu hanya sekadar ingin menunjukkan bahwa “inilah aku”. Aku ingin diakui karena punya barang ini dan itu. Aku tidak belajar bagaimana memanajemen keuangan. Mungkin saja, aku punya tabungan yang cukup untuk keluarga dan menyekolahkan anak-anakku saat ini yang biayanya semakin hari semakin mahal. 

Namun, aku yakin. Aku masih punya waktu untuk memperbaiki itu semua. Mulai dari sekarang ini ....


IG: @robiafrizan

Mahasiswa dan Kebingungan Pascakampus


Anak-anak kuliah yang baru lulus, freshgraduate, tampaknya saat lulus enggak bakalan fresh. Paling euforia bahagianya itu hanya dirasakan saat hari wisudanya saja. Setelah itu? Semacam ada pikiran berat di kepalanya dan sebuah pertanyaan yang segera membutuhkan jawaban, "Saya mau jadi apa?". 

Enggak sedikit lulusan sarjana yang kebingungan setelah wisuda. Entah itu lulus dari perguruan tinggi di daerah atau di kota-kota besar nan favorit. Kebanyakan dari mereka, ya mayoritas akan kebingungan pascakampus itu. Baik itu mahasiswa yang di kampus biasa-biasa saja bahkan mahasiswa yang lulus dengan predikat cumlaude. Banyak di antara mereka yang bingung dan enggak tahu mau melangkah ke mana. Apakah Anda salah satunya?

Belum lagi, dihantui dengan bisikan-bisikan Quarter Life Crisis. Krisis seperempat abad. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikirannya, mungkin tak jauh-jauh dari pertanyaan ini. Saya mau jadi apa? Di mana saya akan bekerja? Berapa gaji nantinya? Apakah mencukupi untuk biaya hidup, membeli rumah, biaya menikah, dll? Kapan saya bisa menikah sedangkan satu per satu teman sudah menemukan teman hidupnya dan pertanyaan lainnya yang kebanyakan untuk dibandingkan dengan kondisinya pada saat itu juga.

Pertama, berhentilah membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Berhenti membanding-bandingkan pencapaianmu dengan pencapaian orang lain. Kondisi setiap orang itu berbeda. Namun, semua pasti punya waktu untuk sampai di puncak. Tinggal kamu mau memilih jalan menjadi apa dan bersabar melewati proses panjangnya.

Kedua, jangan merasa minder dengan diri sendiri. Setiap manusia pasti punya, setidaknya satu hal yang menjadi kelebihannya. Asah dan fokuslah dengan itu. Walaupun kamu merasa hal itu hanyalah hal kecil misalnya, enggak masalah, kalau terus diasah, lama-kelamaan semakin tajam dan kamu akan expert di bidang itu. 

Ketiga, berhenti untuk malas-malasan. Kalau kamu cuma malas-malasan terus, gimana caranya bisa berkembang? Lakukan apa yang bisa kamu lakukan dan mulai dengan segera. Jangan ditunda-tunda. Misalkan, kamu suka menulis, ya menulis aja terus. Asah kemampuan itu. Mulai kirimkan ke media. Kalau diterima kamu akan mendapatkan honor dari tulisanmu itu. Kalau mau, mulai susun juga sebuah buku atau buat sebuah novel. Terbitkan. Konsisten dengan itu. Pelan-pelan orang bakalan tahu kalau kamu punya karya. Atau bidang apa pun yang kamu sukai. Mulai saja. Asah dan terus berlatih. Hindari bermalas-malasan. Lawan kemalasan itu.

Satu hal yang harus benar-benar kamu pahami, untuk sampai di puncak (karier) itu butuh waktu bertahun-tahun. Enggak ada proses yang instan. Agar kamu bisa sampai, maka kamu harus memulai. Bukan dengan terus menunda-nundanya. Bidang apa pun yang kamu pilih, semua berpotensi. Tinggal kamu mau serius menekuninya atau tidak saja.

Tuban, 7 Juli 2020
12.59 WIB

Karya Robi Afrizan Saputra


Satu Januari


Ketidakterasaan waktu yang berlalu semakin cepat, semoga membuat kita semakin bergegas mengumpulkan bekal, semakin mengakselerasi diri dengan kebaikan dan terus meluaskan sayap-sayap kebermanfaatan.

Dan, inilah satu Januari yang menjadi awal di tahun 2019 ini. Semoga siapa saja yang punya niat baik di tahun ini, Allah berikan jalan demi jalan kemudahan. Semoga siapa saja yang punya banyak resolusi di tahun ini, semoga bukan hanya target-target yang tertulis di atas kertas. Semoga ada semangat lebih untuk memperjuangkannya agar di akhir tahun nanti resolusi yang tertulis bisa tercapai. 

Dan, yang lebih penting lagi, semoga resolusi yang dibuat bukan sekadar dan bukan hanya resolusi dunia saja. Namun, ikhtiarkanlah untuk melampauinya. Resolusi yang melebihi resolusi dunia. Resolusi untuk salat tepat waktu, berjamaah bagi laki-laki tentunya; resolusi untuk mulai merutinkan Dhuha dan Tahajud; resolusi untuk lebih memaksimalkan birrul walidayn; resolusi untuk tidak pikir panjang saat berbagi; resolusi untuk sedekah gila-gilaan; resolusi untuk lebih banyak mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu agama; resolusi untuk lebih banyak membaca dan menulis; resolusi untuk lebih dekat dengan Al-Quran; resolusi untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tidak merasa bahwa dirilah yang paling benar; dan resolusi-resolusi kebaikan lainnya.

Ingatlah satu hal bahwa resolusi hanya akan sekadar menjadi target di atas kertas jika tidak dimulai untuk mengikhtiarkannya. 

Hilangkanlah kebiasaan untuk mengatakan, "Ah, mulai besok saja; dua hari lagi deh dimulai; seminggu lagi." Tahu-tahu sudah masuk pertengahan tahun saja. Hati-hatilah. Sebab, semakin menunda maka akan semakin malas. Semakin menunda, waktu semakin bergerak cepat. 

Resolusikan juga untuk memulai apa saja yang bisa dilakukan sekarang, tanpa menunda-nundanya besok. Ini penting! Sebab kita sering terlalai karena kebiasaan menunda-nunda ini. 

Satu Januari ini, mulailah dengan bismillahirrahmanirrahim. Karena kita tidak pernah tahu apakah masih akan ada di dunia pada satu Januari tahun depan. Jika tidak ada yang bisa menjaminnya, lalu kenapa kita masih saja menunda-nunda dan tidak berikhtiar memperjuangkan resolusi kebaikan-kebaikan itu? Mulailah...


Subuh hari di Jatinangor, 1 Januari 2019


Kekhawatiran Pada Masa Depan


Anak muda yang baru lulus kuliah, ia ibarat masuk ke dalam sebuah pintu kehidupan yang sebenarnya. Kalau dulu semasa kuliah, gampang banget bilang ke orangtua, "Mah, duit udah habis. Kabarin aja ya, kalo udah ditransfer." Maka saat resmi menyandang status sebagai sarjana, saya yakin, ada beban tersendiri untuk mengucapkan itu lagi.

Tiba-tiba datang semacam teguran dan dengan tegas diri sendiri berbicara, "Aku harus segera mandiri." Tiba-tiba merasa malu saat masih saja meminta uang kepada orangtua saat sudah ditetapkan menjadi sarjana. Tiba-tiba merasa (sering) gelisah saat tidak tahu akan melangkah ke mana. Betul?

Ada satu hal lagi, yang barangkali ini tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Satu hal ini, saya yakin, hanya dirasakan oleh mereka yang sudah pascakampus, mereka sudah resmi dinyatakan lulus.

Adalah perbedaan realitas antara di kampus dan di pascakampus. Kalau dulu semasa di kampus dengan mudah, idealis dan berapi-apinya mengatakan bahwa "saya nanti setelah lulus sarjana akan S2 di universitas ini, universitas itu, universitas dalam negeri atau luar negeri; saya setelah lulus akan bekerja di perusahaan ini atau perusahaan itu; dan segala kalimat-kalimat lainnya yang seolah mudah untuk digapai, ketika itu."

Namun, saat dinyatakan lulus sarjana dan masuk ke dalam kehidupan yang sebenarnya, ternyata tidak segampang yang dulu pernah dibayangkan.

Ada banyak konflik, kegelisahan, dan kekhawatiran akan  masa depan. Terlebih di saat melihat teman-teman lain yang satu per satu sudah menemukan jalan hidupnya. Sedangkan kita, masih saja belum tahu akan menuju ke arah yang mana.

Kegelisahan ini, kalau terus diikuti, maka akan menyebabkan kita merasakan kegelisahan yang berkepanjangan. Sebangun tidur di pagi hari, merasa gelisah saya belum mendapatkan pekerjaan juga hingga saat ini. Sebelum tidur di malam hari, merasa gelisah besok saya akan ngapain ya? Dan, kegelisahan itu pun menjadi rutinitas yang kita rasakan dari hari ke hari.

Maka dari itu, tugasmu ketika merasakan kegelisahan saat sudah dinyatakan lulus namun belum juga menemukan jalan yang harus dituju, teruslah berikhtiar; sembari terus berjuang menemukan passion di dalam dirimu. Kamu tidak boleh terlalu mengkhawatirkan masa depan. Tenanglah. Karena perihal masa depan (rezeki) Allah sudah benar-benar menjaminnya. Asalkan kamu setelah lulus tidak malas-malasan, tidak mager-mageran, dan terus berjuang mencari perluang. Maka, perlahan kamu pasti sedang melangkah menuju kesuksesan. Cepat atau lambatnya. Namun, teruslah untuk melangkah.

Ibarat sebuah kereta api, awal berjalan begitu lambat pelan-pelan, namun ia terus bergerak. Semakin cepat dan semakin cepat. Kemudian sampailah ia di tujuannya. Begitu pun kamu, walau langkahmu setelah lulus belum tahu akan ke mana dan terasa begitu berat, teruslah untuk berjalan dan bergerak. Jangan malas-malasan. Allah sudah menjamin masa depanmu, dengan syarat kamu terus berikhtiar!

Untukmu yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa, maka mulailah untuk mempersiapkan masa depanmu sekarang juga. Tentukan arah hidupmu dan mulailah memperjuangkannya sesegera mungkin. Semakin cepat kamu memulai, maka akan semakin cepat kamu sampai di tujuan. Kalau masih menunda-nunda, maka sadar atau tidak kamu telah ditinggalkan oleh teman sebayamu yang berani memulai dengan segera. Mereka sudah sampai di titik yang jauh, kamu masih saja belum bergerak.

Di kampus, jangan lagi banyak nongkrongnya, namun yang ditongkrongin ga tahu ngomongin apa. Cuma ketawa-ketawa doang. Di kampus, jangan banyak malasnya. Keluarlah dan carilah relasi seluas-luasnya. Beranilah untuk mencoba banyak hal yang baru. Jangan takut untuk gagal. Karena dengan kegagalan itu kamu akan paham hal mana yang harus dievaluasi dan hal mana yang harus terus dilalui. Selamat berjuang anak muda!

IG: robiafrizan1
19 November 2018, di Kereta Api Argo Parahyangan dari Bandung menuju Gambir Jakarta.