Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Penyesalan Saat Usia 40 Tahun

 

Coba bayangkan pada saat ini usiamu sudah 40 tahun. Bayangkanlah hal-hal apa saja yang akan kamu sesali saat masih usia 20-an tahun dulu yang berdampak pada hidup, karier, dan kesehatanmu.

1.     Sering bermalas-malasan? 2.     Takut untuk membuat keputusan? 3.     Tidak membiasakan ibadah wajib? 4.     Takut keluar dari zona nyamanmu? 5.     Tidak membiasakan olahraga? 6.     Berlebihan mengonsumsi gula dan makanan berminyak? 7.     Hidup boros dan tidak punya tabungan? 8.     Tidak memiliki sumber penghasilan tambahan? 9.     Bergaul dengan orang-orang yang salah? 10.  Terlalu mengikuti gaya hidup dan konsumtif? 11.  Atau apa?

Bayangkanlah hal-hal tersebut dan kamu menyesalinya saat berusia 40 tahun nanti.

Kawan, mumpung saat ini usia kita masih 20-an tahun. Penyesalan masa tua itu bisa diantisipasi dari sekarang.

Gimana caranya?

Kalau menyesal bermalas-malasan, ubahlah hal itu. Lawan kemalasanmu sekuat tenaga dengan memiliki tujuan hidup yang jelas dan terarah.

Kalau menyesal karena hidup boros. Mulai belajar mengatur keuangan dan mengendalikannya.

Kalau menyesal tidak membiasakan ibadah wajib. Mulailah melaksanakannya dari sekarang.

Semua itu bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri.

Gimana hidupmu, bergantung bagaimana kamu. Kamu yang mengubahnya, kamu yang memperjuangkannya, kamu yang menikmatinya, dan kamu juga yang akan menyesalinya nanti.

Setiap orang akan bertanggung jawab dengan hidupnya masing-masing.

IG: @robiafrizan1

Penyesalan Suatu Hari Nanti

Kalau saja saat usia muda dulu, aku serius memperjuangkan impianku. Aku berani mencobanya. Aku tidak peduli dengan omongan negatif orang lain. Aku tidak terlalu banyak bermain-main. Aku tidak membuat-buat alasan yang menghambat perkembangan diriku. Aku serius untuk belajar. Aku tidak takut kalau gagal. Aku bersungguh-sungguh untuk berjuang. Mungkin saja, ada jalan hidup yang lebih baik untukku saat ini.

Kalau saja saat usia muda dulu. Aku menjaga pola makanku. Aku tidak berlebihan dalam mengonsumsi gula, minyak, dan segala hal yang memang tidak boleh berlebihan. Aku rutinkan olahraga tiap hari walau tidak lama. Mungkin saja, tubuhku saat ini lebih sehat dan tidak sakit-sakitan seperti saat ini.

Kalau saja saat usia muda dulu, Aku menjaga pola tidurku. Aku tidak sering begadang. Kalau capek, aku sempatkan istirahat. Bukan terus-terusan memaksa tubuhku ini. Mungkin saja, keadaanku saat ini lebih baik.

Kalau saja saat usia muda dulu, Aku sudah mulai memperbaiki diriku dan memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Tidak meninggalkan kewajiban dari-Nya. Aku yakin, aku akan lebih tenang dalam menjalani hidup ini. Sebab, aku punya Tuhan. Aku punya tujuan sejati yang bukan sekadar mengejar duniawi. Namun, saat tubuh ini mulai ringkih dan sakit-sakitan. Barulah aku mengingat-Nya. Itu pun aku masih salat dengan terburu-buru di sisa-sisa waktuku.

Kalau saja saat usia muda dulu. Aku tidak foya-foya. Aku tidak membeli sesuatu yang sebenarnya aku tidak benar-benar butuh. Terkadang yang kubeli itu hanya sekadar ingin menunjukkan bahwa “inilah aku”. Aku ingin diakui karena punya barang ini dan itu. Aku tidak belajar bagaimana memanajemen keuangan. Mungkin saja, aku punya tabungan yang cukup untuk keluarga dan menyekolahkan anak-anakku saat ini yang biayanya semakin hari semakin mahal. 

Namun, aku yakin. Aku masih punya waktu untuk memperbaiki itu semua. Mulai dari sekarang ini ....


IG: @robiafrizan1

Tidak Perlu Khawatir, Tenanglah...


Sebagaimana pun kelamnya masa lalu, janganlah khawatir, kamu masih punya masa depan. 

Sebagaimana pun pekat dosa-dosamu, tenanglah, Allah Maha Pemaaf kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat.

Kamu boleh menangis dan kamu boleh menyesal atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Tetapi kamu tidak boleh berputus asa. Sebab, Allah begitu Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya. 

Kamu hanya perlu menyesalkan setiap dosa-dosa yang telah diperbuat. Kemudian, bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Kamu harus bersungguh-sungguh untuk memohon ampunan dan serius untuk bertaubatan nasuha.

Astaghfirullah...

Duhai Allah, maafkanlah kami yang seringkali melampaui batas.
Duhai Allah, maafkanlah kami yang masih sering bermaksiat.
Duhai Allah, maafkanlah kami yang sering lalai dengan kewajiban.

Baca pelanlah firman Allah yang begitu romantis ini, "Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Semoga di waktu-waktu ke depan, kamu terus bersemangat untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amalan kebaikan.

Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Setiap orang punya masa lalu dan setiap orang juga punya masa depan. :')



Follow Instagram @robiafrizan1 

Dahsyatnya Masa Muda


Stasiun Bandung

Kita tidak akan pernah menyesal atas perjuangan-perjuangan yang kita lakukan di masa muda ini. Atas bisnis yang mulai dibangun namun bangkrut, atas usaha yang mulai dijalani namun sepi pengunjung, atas ikhtiar menuntut ilmu yang membuat tubuh hingga jatuh sakit, atas tekad diri untuk mengabdi pada masyarakat hingga lupa waktu dan mau tidur di mana saja. Kita tidak akan pernah menyesal atas itu semua.

Sebab, segala yang dilakukan di masa muda akan menyisakan sebuah hal yang berharga: pengalaman.

Semua sudah paham dan mengetahui bahwa pengalaman tidak dapat dibeli dengan sebanyak apapun harta orangtua. Pengalaman hanya mampu dimiliki oleh orang-orang yang berani menghabiskan masa mudanya untuk mencoba banyak hal. Walau kadangkala apa-apa yang kita dicoba malah menghasilkan kegagalan. Tidaklah mengapa. Sebab, bukanlah hasil yang dicari, namun pembelajaranlah yang selalu menjadi tujuan akhirnya.

Beruntunglah bagi mereka yang sadar akan momentum muda. Mereka yang tidak ingin melewatkan masa mudanya berlalu begitu saja. Hingga mereka punya tekad untuk menjadikan masa mudanya sebagai momentum yang luar biasa. Momentum pembelajaran untuk bertumbuh lebih dewasa.

Apa-apa yang kita lakukan di masa muda haruslah apa-apa yang menjadi kebiasaan kita di masa tua. Jiwa pantang menyerah, semangat menuntut ilmu, jujur dalam apapun kondisi, dan segala perihal kebaikan lainnya.

Masa muda hanya sekali dan jadikanlah berlimpah arti. Begitulah kutipan dalam buku saya yang berjudul Jangan Jadikan Masa Mudamu Sia-sia (klik).

Jatinangor. 6/12/2017

Belajar Tumbuh Dewasa


Pangdam Unpad

Tampaknya kita perlu belajar lebih dewasa untuk saling menghargai. Agar tak ada hati yang luka, agar tak ada jiwa yang kecewa. Sebab, masing-masing di antara kita tentulah berbeda-beda.

Ada yang ingin lulus cepat dari masa studinya di kampus. Sebab, ada target dan rencana lain yang ingin disegerakannya selepas wisuda nantinya.

Ada yang menunda lulusnya sejenak. Sebab, ada alasan penting yang memang diprioritaskannya terlebih dahulu. Mengembangkan bisnis, memperluas relasi dengan kontribusi di organisasi, atau perihal lain yang tidak perlu kita perdebatkan tentunya.

Ada yang di kampus memilih untuk aktif di banyak organisasi yang menyebabkan jadwalnya selalu padat. Itu juga tak apa. Tentu mereka yang memilih jalan itu ada alasannya tersendiri juga. Atas semua yang dilakukannya. Atas apa-apa yang diperjuangkannya.

Ada juga yang di kampus full kuliah. Fokus akademik. Tidak satu pun ikut organisasi. Mungkin juga mereka punya alasan yang membuatnya untuk melakukan itu. Tentu alasan-alasan yang mereka sampaikan adalah alasan-alasan yang penuh dengan pertimbangan. Tidak juga perlu kita membicarakannya di belakang.

Ada juga yang di kampus lebih banyak waktunya dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan sosial masyarakat. Hingga waktu kuliahnya sedikit terpinggirkan. Kita juga tidak perlu mendebatkannya. Tentu mereka yang memilih hidupnya penuh dengan kontribusi sadar bahwa hidup adalah tempat berbagi dan mengabdi. Kita tidak perlu perdebatkan juga.

Ada juga mereka yang di kampus fokus pada lomba-lomba dan berbagai kompetisi. Tidak aktif di organisasi, tetapi aktif berkompetisi. Berbagai kejuaraan diikutinya. Berbagai perlombaan dimenangkannya. Pasti juga mereka punya alasan tersendiri untuk melakukan itu semuanya.

Kita harus terus belajar tumbuh dewasa. Sebab, setiap orang punya life plan yang berbeda.

IG: robiafrizan1
Jatinangor. 5/12/2017

Saat Kamu Takut


Ketakutan yang kamu rasakan saat ini tak akan bisa hilang jika kamu tetap terus merasa takut. Satu-satunya cara agar takutmu bisa lenyap adalah melakukan apa yang kamu takutkan itu. Dengan melakukannya berarti kamu sedang mendobrak rasa takutmu, membunuh rasa takutmu, dan memunculkan (sedikit) nyali beranimu.

Inilah yang paling dibutuhkan ketika rasa takut itu tiba-tiba hadir: nyalakan nyali beranimu. 

Dengan sedikit berani, maka rasa takut itu perlahan beranjak pergi. Bagaimana caranya agar nyali berani itu muncul? Cara terbaik dari proses memunculkan nyali berani adalah meyakinkan dirimu bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika kamu melakukan apa yang sedang ditakutkan itu. Tidak boleh khawatir. Tetap tenang saja. Semua akan baik-baik saja.

Permisalan sederhananya, di sebuah kelas yang ramai, kamu ingin berbicara dan mengutarakan pendapat. Namun, masih ada sedikit rasa takut bahwa apa yang nanti kamu katakan tidak sesuai dengan kenyataan orang-orang. Kamu takut apa yang disampaikan nanti ternyata adalah hal yang biasa-biasa saja. Sehingga semakin bertumpuklah rasa takutmu itu. Yakinlah bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika kamu berbicara nantinya. Tidak akan ada yang membunuhmu. Tidak akan ada yang menertawaimu. Nyalakan saja sedikit nyali beranimu. Kemudian mulai berbicara. Satu kalimat yang kamu ucapkan pertama akan menuntun lidahmu untuk berucap hingga kata terakhir.

Jadi yang paling penting itu, berani saja. Semua akan baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Tenanglah. Karena semakin tenang, maka kamu akan semakin senang. Senang ternyata rasa takut itu tidaklah ada. Saat kamu menyalakan nyali beranimu, maka rasa takut itu benar-benar tidak ada. 

Takut itu hanyalah sugesti. Sebuah sugesti yang membuatmu tidak akan maju. Karena itu, dobraklah rasa takut dengan nyali keberanianmu itu agar kamu benar-benar bisa melangkah dan terus maju.

Tidak ada yang perlu ditakutkan. Semua akan baik-baik saja.

Tengah malam. 00.08 Wib
2/11/2017

Jalan yang Berbeda


Hari-harimu akan menjadi hari-hari yang bahagia, jika setiap kejadian dan peristiwa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Berbeda dari orang-orang yang sering memandang segala hal dengan saling menyalahkan, saling menjatuhkan, saling berdebat tanpa tahu ke mana arah sebuah muaranya. Jadilah berbeda dengan memandang setiap hal dengan sudut yang selalu baik-baik saja. Walau sekalipun kondisimu sedang jatuh. Pandanglah dengan berbeda. Bahwa dengan jatuh ini kamu akan bisa bangkit dan menjadi lebih tangguh.

Berani berbeda bukan berarti salah. Malah menjadi berbeda akan lebih baik jika perbedaan yang dipilih bermuara pada setiap kebaikan yang menyala-nyala. Bayangkan segerombolan orang sedang berjalan di sebuah rute menuju keburukan. Kemudian kamu berani keluar dari jalan itu sendirian untuk menempuh rute baru menuju kebaikan. Inilah perbedaan yang patut dibanggakan. Berani berbeda demi kebaikan walau hanya sendirian.

Yakinkanlah pada dirimu bahwa menempuh jalan kebaikan adalah sebuah perjuangan. Kamu harus siap menerima cacian. Kamu harus selalu sedia menerima kritikan yang kadang tanpa dasar dan alasan yang jelas. Kamu haruslah benar-benar menguatkan telapak kakimu untuk menempuh jalan panjang kebaikan itu. Harus benar-benar kuat dan tidak boleh mundur. Walau berat, tetaplah melangkah. Jangan sesekali untuk menyerah. Sebab, jalan kebaikan yang sedang kau tempuh adalah jalan yang berdarah-darah. Rasul saja diludahi ketika berdakwah. Namun, beliau tak pernah marah. Tak kenal lelah. Dan terus melanjutkan langkah. Kamu pun juga harus begitu. Ya kamu dan tentu juga aku.

Selamat menempuh jalan panjang kebaikan. Tidak boleh mundur. Tidak boleh menyerah. Kuatkan terus kakimu untuk melangkah.

Malam sunyi. 23.47 Wib.
1/11/2017

Konsep Rezeki


Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah event akbar yang diselenggarakan oleh sebuah kementerian yang bekerja sama dengan kampus tempat saya kuliah. Kegiatan ini benar-benar besar dan tidak tanggung-tanggung. Langsung mendatangkan menteri yang bersangkutan. Namun, karena ada kendala dan lain halnya, menteri tersebut tidak jadi hadir. Beliau digantikan oleh seorang deputi. 

Namun, peserta tetap membludak. Seribu lima ratus orang lebih terdaftar di form yang disebarkan melalui beragam kanal media sosial. Bahkan ada yang tidak kebagian. Membludaknya pendaftar memang tak biasanya. Hal ini disebabkan karena doorprize yang diberikan sangat mewah dan menggiurkan. Grandprizenya satu unit sepeda motor. Disusul dengan enam laptop, tiga handphone terbaru, tiga speaker, tiga headset, dan puluhan juta uang yang benar-benar tunai diberikan langsung di lokasi. 

Di sinilah konsep rezeki itu bekerja.

Selepas kegiatan, saya mengamati setiap tingkah para peserta yang bermaksud pulang ke kosan masing-masing. Hampir semua yang saya amati, mereka menyesal dan merasa kecewa, "Kenapa ga saya yang dapet hadiahnya?" Lebih kurang seperti itu. Banyak yang merasa bahwa dialah yang paling pantas mendapatkan hadiah demi hadiah yang menggiurkan itu. Bahkan ada juga yang menyalahkan panitia , kenapa yang bersangkutan tidak diberikan kesempatan untuk bertanya. Padahal sudah mengacungkan tangan. Mereka sangat berharap dipilih untuk bertanya karena ada hadiah satu juta rupiah bagi setiap yang memberikan pertanyaan.

Di sinilah konsep rezeki itu bekerja.

Sebagai hamba manusia, kita hanya bisa mencapai titik usaha. Keputusan akhir mutlak ditentukan oleh Sang Pemberi Rezeki itu. Bagaimana pun kita berusaha, kalau bukan rezeki kita. Ya, cara terbaik untuk menenangkan hati adalah mengikhlaskannya. 

Sebagai hamba manusia, kita juga tidak boleh mengkhawatirkan rezeki. Teruslah berusaha. Selagi terus berikhtiar dan bekerja, yakinlah akan selalu ada rezeki dari pintu yang tiada diduga-duga. Asalkan kita tidak boleh malas-malasan dan tidak boleh menunda-nunda untuk berusaha. Teruslah berikhtiar dan meyakini bahwa akan selalu ada rezeki bagi setiap hamba yang memaksimalkan usahanya.

Terik siang. 13.21 Wib
31/10/2017

Belajar Memahami Orang Lain


Kita adalah manusia yang sama-sama punya kepentingan dan kesibukan. 
Karena itu, belajarlah untuk memahami orang lain terlebih dahulu.
Mungkin saja, saat engkau meminta tolong padanya, ia slowrespons padamu, berhusnudzonlah. 
Bukan berarti ia tidak ingin membantu dirimu.
Namun, berpikirlah jauh ke depan.
Mungkin saja, ia sedang mengerjakan sesuatu atau dalam kesibukan lain yang memang harus diprioritaskannya.

Jangan tiba-tiba marah dan ngejudge.
Jangan tiba-tiba menyalahkan.
Pahamilah terlebih dahulu kondisi orang lain.

Karena itu, bertabayyun itu memang penting.
Agar tak ada prasangka negatif dan pikiran buruk pada orang lain.

Belajarlah memahami kondisi orang lain.
Agar kau bisa paham bahwa kesibukan di dunia ini bukan hanya satu.
Namun, ada begitu banyak yang harus segera untuk diselesaikan.

Dengan belajar memahami orang lain, berarti kau sedang belajar memahami dirimu sendiri.

Kompetisi dan Pelajarannya


Ibarat sebuah perjalanan panjang, yang paling penting dalam sebuah kompetisi adalah proses mencapai tujuannya. Hasil akhir terletak bukan pada ranah logika manusia. Semua keputusan terbaik lahir dari tangan Tuhan. Sederhananya, manusia hanya mampu untuk berikhtiar dan melangitkan doa-doa. Sedangkan Tuhan adalah penentu segalanya.

Kompetisi bukanlah ajang untuk menjadi menang. Melainkan ajang untuk mencari pengalaman. 

Jika menang yang menjadi tujuan: jika mendapatkan kekalahan, maka yang akan terjadi adalah patah dan kecewa. Jadikanlah kompetisi sebagai rumah untuk mencari pengalaman. Bagaimanapun hasil yang didapat, akan selalu ada hikmah dan pelajaran yang mampu untuk dibawa pulang. 

Bagi para pemenang, jadilah sang jawara yang santun. Mampu berjiwa ksatria. Punya hati yang lembut untuk saling menghargai. Bahagia itu wajar. Namun, janganlah euforia dengan berlebihan. Sebab, kemenangan pun bukanlah sebuah hasil akhir. Andai saja ada noda merasa lebih hebat dan lebih unggul, maka gelar kemenangan yang didapatkan akanlah padam dengan cepat. Sebab, menang yang sejati terletak pada segumpal hati. Pemenang tidaklah sombong walaupun hanya setitik saja. Ia mampu untuk menghargai. Menyadari bahwa hakikat menang adalah sebuah ujian. Bagaimana agar mampu untuk tetap bertumbuh dan menjadi lebih baik selepas digelar pengumuman kompetisi. 

Bagi yang tidak mendapatkan kemenangan. Ini bukanlah sebuah akhir. Melainkan awal yang baru untuk kembali bertumbuh. Janganlah pernah untuk saling menyalahi. Bagaimanapun itu keadaannya. Milikilah jiwa yang lapang. Menerima bahwa masih ada celah yang harus ditutup atas perjuangan yang telah dilakukan. Mengevaluasi adalah langkah paling bijak. Mencari bekal agar mampu menciptakan peluang baru di hari berikutnya.

Tetaplah untuk bertumbuh. Pelan-pelan dan dengan perlahan. Untuk menjadi kupu-kupu memang penuh dengan perjuangan. Nikmati saja langkah demi langkah itu. Lalui perjalananmu dengan sungguh-sungguh. 

Dan ingatlah, ketika sudah berusaha, namun belum mendapatkan hasil yang maksimal, setidaknya sudah memberikan yang terbaik

Masih sangat banyak nikmat yang harus (kembali) untuk disyukuri.


Makassar, 27 Agustus 2017

IG: @robiafrizan1

Dua Hal Penting


Dua hal yang bisa membuat hati terasa tenang adalah sabar dan syukur

Saat kebaikanmu dipandang remeh oleh orang lain. Ingatlah, Rasul saja diludahi. Takperlu marah. Takperlu dendam. Tersenyumlah. Bersabarlah. Katakan pada jiwa, bahwa kebaikan ini bukan untuk siapa-siapa. Semata-mata hanya karena Dia. Dengan harapan agar ada amal yang mengalir seba'da meninggal dunia.

Saat hidupmu terasa begitu kurang. Ingin ini, tapi belum mampu. Ingin ke sana, tapi belum bisa. Ingatlah, ada yang lebih kurang dari dirimu. Tapi kenapa mereka masih mampu untuk tersenyum, tidak mengeluh, dan selalu pancarkan aura bahagia. Sebab, mereka hebat dalam bersyukur. Mereka menemukan bahwa kunci bahagia bukan pada berlimpahnya harta, melainkan bahagia terletak pada kebijaksanaan jiwa. Karena itu, bagaimana pun hidupmu, bersyukurlah. Karena dengan bersyukur, maka kau akan menemukan puncak bahagia.

Karena itu, agar hari-harimu bisa tenang, agar hati dan jiwamu merasakan kedamaian. Tumbuhkanlah sifat sabar dan syukur dalam hidupmu. Siramlah keduanya tiap hari. Hingga terus bermekaran dan berbunga. Sebab, sabar dan syukur adalah sebaik-baiknya yang harus ada dalam setiap liku kehidupan manusia. 

Jika kau bersabar dalam hidupmu, maka apapun cobaan dan ujian yang datang akan selalu kau pandang dengan positif. Sebab, di balik semua itu pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik.

Jika kau bersyukur dalam hidupmu, maka kau akan sadar, ternyata masih banyak orang lain yang lebih kekurangan dari dirimu.

Ya Allah, Aku Gelisah

Tak sedikit dari manusia yang hatinya sering merasa was-was, resah, dan gelisah. Ketika punya harta, takut hartanya habis dan berkurang. Ketika beribadah, malah merasa tidak kusyuk dan tidak tenang. Ketika berteman dengan orang lain, sering merasa cek-cok dan tak nyaman. 

Lalu, apa sebenarnya penyebab kegelisahan itu muncul di keseharian manusia?

Ibaratnya, kegelisahan itu seperti ketidaknyaman yang selalu menghantui. Merasa tertekan. Merasa berat. Merasa ada sesuatu yang membuat hidupnya penuh dengan beban. Seolah-olah dunia ini begitu sempit dan sulit. Pikirannya sudah dihantui oleh kegelisahan. Tidak sedikit pun kenyamanan hadir di dalam kalbu dan jiwanya.

Ya Allah, aku gelisah...
Ya Allah, aku was-was...
Ya Allah, aku sering merasa tertekan...

Apakah penyebabnya karena aku begitu jauh dari-Mu? Aku yang selalu menunda-nunda, melalaikan, bahkan sering lupa melaksanakan kewajiban dari-Mu. Shalatku sering bolong-bolong. Hidupku kadang jatuh ke lembah maksiat. Orangtuaku kadang aku remehkan. Tak jarang aku membangkang dan melawan kepada mereka. 

Ya Allah, ampuni diri ini..
Ya Allah, maafkanlah kesalahanku ini, khilafku ini, dan maksiat yang sering kulakukan.
Astaghfirullah...

Mungkin, inilah penyebab hatiku sering gelisah. Aku yang sering menjauh dari-Mu, padahal Engkau selalu ada untukku.

Astaghfirullah...

Ya Allah, berikanlah cahaya dan maghfirah padaku. Bimbing aku. Tuntun aku menjadi hamba yang seutuhnya untuk-Mu. Aku yakin, Engkau pasti menolong hamba-Mu yang punya niat berubah menjadi lebih baik ini. Aamiin 

(P)ujian

"Wah prestasinya banyak banget. Keren!"
"Kamu cantik banget. Pasti beruntung yang bisa menikahimu nanti deh."
"Kamu ganteng. Hafal Al-Qur'an lagi. Usia muda juga udah mandiri."
"Suaranya waktu baca Qur'an merdu banget euy."

Adakah rasa berbangga ketika orang lain memberikan pujian kepada kita? 
Jika ada, berarti itu bukanlah pujian. Melainkan adalah sebuah ujian.

Sebab, jika hati sudah tergelincir, semuanya akan salah. Karena itu, hati-hatilah dalam merasa. 

Kalau ada yang memujimu, jangan merasa yang paling hebat.
Kalau ada yang memberikan tepuk tangan untukmu, jangan merasa yang paling bisa.
Kalau ada yang menganggapmu begitu "wah" baginya, jangan merasa yang paling pintar. 
Lalu, menganggap orang lain tidak bisa dan tidak ada apa-apanya.

Pujian untukmu adakalanya akan menjadi sebuah ujian bagimu. Maka, berhati-hatilah.

Astaghfirullah

Cinta yang Bermartabat


Ternyata aku baru menyadari bahwa ketika kusandarkan harapan ini padamu. Hanya kecewa yang kurasakan berkali-kali. Hanya harapan tak pasti yang bisa kumiliki. Dan hanya cinta semu yang mampu kubawa untuk pulang. Sedangkan harapan untuk bisa sehidup dan sesurga denganmu tetaplah menjadi angan-angan.
.
Kini aku sadar bahwa cinta bukanlah disandarkan kepadamu, melainkan cinta mesti disandarkan kepada-Nya. Karena bersandar dan berharap kepada manusia hanya akan menuai kecewa. Sedangkan menyandarkan segalanya kepada Allah maka kau akan merasakan bahagia. Yang tiada tara dan tentu tiada duanya.
.
Pada akhirnya, kepada cinta aku hanya tinggal menunggu waktu. Menunggu saat yang tepat untuk menemuimu dengan cara yang terhormat. Agar nantinya cinta yang kita bangun bukanlah cinta yang sesaat, melainkan nanti 'kan kita bangun cinta yang penuh martabat. Cinta yang menuntun pada taat, bukan cinta yang menjerumuskan pada maksiat. Cinta yang tumbuh di dunia dan mekar-berbunga hingga ke surga milik-Nya.
.
IG: @robiafrizan1

Cara Terbaik Merawat Cinta



Cara terbaik merawat cinta adalah menyimpannya rapat-rapat dalam ruang yang tak dekat. Jauh, jauh, dan sangat jauh. Yang hanya dekat dengan dirimu dan diri-Nya. Yang hanya kau ucap dalam doa-doa. Dan kau tak mengumbarnya pada siapa saja. Karena hakikat cinta adalah berani. Ketika kau berani mencintai, berarti kau juga mesti berani untuk menikahi. Jangan sekali-kali mencintai, lalu pergi dan menyakiti hati. 
.
Mencintai bukanlah perkara yang main-main. Jika kau mencintai, kau juga mesti siap untuk dicintai. Jika kau ingin dicintai, kau juga harus mencintai. Saling bersinergi antara kau dan dirinya.
.
Tentu ini mesti berada dalam ranah yang tepat. Jangan sesekali meletakkannya pada ranah yang sesat. Jika kau ingin dapatkan cinta yang terhormat, tentu kau juga mesti menjadikan dirimu bermartabat. 
.
IG: @robiafrizan1

Jadi Anak Muda Kekinian


Saat orang lain masih berdiam diri, kita mesti berani untuk melangkah. Saat orang lain baru melangkah, kita mesti sudah berjalan. Saat orang lain baru mulai berjalan, kita sudah berlari. Saat orang lain baru berlari, kita sudah sampai di tempat tujuan (keberhasilan) yang kita impikan.

Sebagai anak muda, filosofi di atas mesti kita terapkan dalam menjalani kehidupan ini.

Karena hidup ini bukanlah tempat main-main yang sia-sia. Boleh sih main-main, tapi main-mainnya mesti yang bermanfaat.  Bukan main yang sekadar main. Namun ada makna dan hikmah yang mesti dipetik dari main-main yang dilakukan.

Sebagai anak muda, kita mesti berani beda. Berani berbeda dari anak-anak muda yang lainnya. Saat anak muda yang lainnya masih saja sering nongkrong dan ngobrol ga jelas yang tanpa tujuan, kita mesti berbeda. Saat anak muda yang lainnya masih saja berpikir minta uang dari orang tua, kita mesti sudah mulai berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang dan membantu sedikit-banyaknya beban orang tua. Tentu dapatin uangnya dengan cara yang baik, bukan dengan cara yang ga pernah diajarkan oleh agama Allah.

Pokoknya, sebagai anak muda kita mesti menjadi anak muda yang di atas rata-rata. Anak muda yang kekinian namun tetap dalam jalur keislamian. Gaul boleh gaul, tapi shalat ga boleh bolong-bolong. Main games boleh main games, namun sedekah tetap lancar dan terus dijalankan. Ngeband boleh ngeband, tapi ngebantu orang tua juga mesti tetap dilakukan.

Intinya dah, kita mesti jadi anak muda yang kekinian namun tetap dalam jalur islam. Jangan sampai pula jadi anak muda gaptek dan ga tau apa-apa. Ditanya ini, ga tau. Ditanya itu, juga ga tau. Jangan!


Jadilah anak muda di atas rata-rata dengan kepribadian yang luar biasa!

sumber gambar: suguh-kurniawan.blogspot.com

Jatuh Cinta Berjuta Rasanya


Ngomong-ngomong tentang cinta, siap-siap bakal senyum-senyum sendiri. Nah loh, itu buktinya, baru aja baca satu kalimat udah flashback dengan masa lalu. Ingat saat si dia mengungkapkan perasaannya, ingat saat si dia ngeping dan bilang “selamat pagi sayang; udah makan belum?” dan ingat saat dia bilang “udah sampai di sini aja hubungan kita. Gue bosan!” Jangan senyum-senyum sendiri deh. Haha

Boleh sih boleh mengingat masa lalu itu, tapi tentang cinta kita mesti memaknainya dengan sebenar-benarnya cinta. Jangan sampai tenggelam pula dengan keindahan masa lalu, bisa-bisa kita mati karena rindu dengan kenangan dulu. Move on dong!

Memang jatuh cinta berjuta rasanya, tapi kalau jatuh cintanya tidak pada waktu yang tepat, maka siap-siap aja akan merasakan nikmatnya kecewa, sakit hati, dan diPHPin. Sebagai anak muda luar biasa, kita bisa memaknai cinta dengan sebenar-benarnya cinta.

Jangan terlalu berharap sama si dia, kalau berharapnya sama si dia, maka siap-siap aja dibuat kecewa. Tapi berharaplah pada Dia, pasti kita bakal tenang, nyaman, dan ga bakal merasa gelisah.

Cinta sangat dekat dengan jodoh. Jika bilang cinta, pasti ujung-ujungnya juga ngomongin tentang jodoh. Maka dari itu, tentang cinta kita ga boleh main-main.

Pernah dengar atau pernah baca ayat al-Qur’an tentang perempuan baik untuk laki-laki baik dan laki-laki baik untuk perempuan baik? Yakin deh pernah dengar!

Nah begitulah, sebagai anak muda, tentang cinta dan jodoh tidak perlu dipusingkan saat ini. Yakin aja suatu saat nanti si dia akan datang kepadamu dengan cara yang terhormat dan mengajakmu membangun rumah tangga yang bermartabat. Yang jelas, sekarang waktunya belajar yang rajin, memperdalam ilmu agama, dahsyatkan berbakti kepada orang tua, dan kejarlah cita-cita yang sudah diimpikan sejak dulu itu.


Jangan dulu mikirin si dia. Yakin aja, jodoh udah diatur sama Allah kok! 

Perbaiki dirimu maka kau akan dapatkan juga dia yang sedang berusaha memperbaiki diri untuk dirimu.

sumber gambar: wahdah.or.id

Jika Kau Jatuh Cinta

Jika kau jatuh cinta. Jangan jatuh sedalam-dalamnya. Sisakan ruang di hatimu untuk yakin bahwa setiap manusia sudah ditakdirkan jodoh terbaik oleh Allah. Dan yang kau cinta saat ini belum tentu menjadi jodohmu kelak.

Jika kau jatuh cinta. Diam-diamlah. Jangan umbar kepada siapapun itu. Cukup saja kau sebut namanya dalam doa-doa. Lalu segeralah memohon pada Allah. Semoga rasa itu segera hilang, lenyap, dan tak berbekas lagi di hatimu.

Sekarang waktunya untuk fokus dan terus belajar, menggapai cita-cita, serta membuat bangga kedua orang tua.

Yakinlah, pada waktunya akan datang orang yang tepat untukmu dan kau mesti mencintainya dengan cara yang terhormat. Menikah. Agar cintamu itu cinta yang bermartabat bukan hanya cinta yang sesaat.

Twitter dan instagram: @robiafrizan1

Tentang Waktu

Kita sama-sama punya waktu 24 jam. Orang lain dengan waktu itu ia bisa belajar, berorganisasi, berbisnis, menulis, berkumpul dengan keluarga, banyak membaca, rajin menambah ilmu agama, menambah kemampuan berbahasa, berbagi pada sesama dan kegiatan positif lainnya.

Lha, kita sendiri jangan sampai menghabiskan waktu 24 jam itu untuk nongkrong yang ga jelas, berkegiatan tak bermakna, beraktivitas yang sia-sia dan segala jenis yang tak bermanfaat lainnya.

Ingat. Waktu itu terus bergerak maju. Yang tak siap dengan kemajuan ya siap-siaplah untuk dilindas peradaban. Yang siap dan berani untuk maju ya silakan manfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.

Hidup ini pilihan kok. Mau memilih yang bermakna atau sia-sia? Ya silakan saja memilih.

Pondok Al - Quds, 10 Oktober 2015

Menjadi Luar Bisa, Mesti Berkebiasaan yang Luar Biasa juga

sumber gambar: http://umustlucky.blogspot.co.id


Banyak orang yang hari-harinya biasa saja, itu semua dikarenakan tindakan atau kebiasaannya yang juga biasa-biasa saja. Untuk menjadi luar biasa kita mesti keluar dari garis kenyamanan. Memberanikan diri untuk bertindak yang luar biasa, agar memang hasil yang didapatkan juga hasil yang luar biasa juga.

Singkatnya, untuk menjadi pribadi yang luar biasa, kita mesti bertindak luar biasa, memiliki pola pikir yang luar bisa, dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang luar biasa juga.

Dalam buku Model Manusia Muslim Abad XXI karya M. Anis Matta dijelaskan bahwa ada 12 kebiasaan luar biasa yang harus dilakukan oleh manusia luar biasa. Namun saya meringkas dan memadatkannya kembali menjadi empat kebiasaan hebat yang harus kita lakukan.

Lantas, apa saja kebiasaan-kebiasaan hebat yang harus dilakukan agar kita menjadi pribadi yang luar biasa?

1. Sediakan lebih banyak waktu untuk membaca dan sediakanlah waktu 15 menit untuk memikirkan dan mengendapkan bacaan Anda.

Setiap bacaan yang kita baca akan memengaruhi pola pikir kita. Mau tidak mau kita mesti membaca. Karena hanya dengan membaca pengetahuan kita bisa bertambah luas. Lihatlah orang-orang hebat di luar sana yang cakap dalam orasi, lancar pembicaraannya, dan tidak gugup saat tampil di depan umum. Mereka itu banyak membaca dan biasanya membaca apapun bacaan yang dihadapkan pada mereka.

Dan hal yang paling pentingnya lagi adalah mengendapkan atau memikirkan kembali bacaan yang telah dibaca itu. Jangan sampai membaca hanya sekadar membaca. Kita tak paham dan tak tahu ilmu apa yang disampaikan oleh buku yang dibaca. Rugilah jika memang kita membaca hanya sekadar membaca. Ketika seminggu setelah membaca, orang menanyakan kembali bacaan kita tersebut. Lah, kita malah bengong, tak paham dan pura-pura lupa. Jangan begitu! Jika telah selesai membaca suatu bacaan, endapkan dan pikirkanlah apa yang dibaca itu agar memang bacaan yang kita baca nyangkut di otak dan kita pun paham.

2. Luangkan waktu selama 20 menit dalam sehari untuk menyendiri dan merenung.

Kenapa kita mesti menyendiri dan merenung?

Karena dengan menyendiri dan merenung kita akan tahu apa yang akan kita lakukan hari itu. Kita akan tahu kebaikan-kebaikan apa yang akan kita lakukan. Kita pun akan tahu hal-hal apa yang tidak boleh lagi kita lakukan (red: kesalahan kemarin).

Kemudian, jika kita merenung dan menyendiri di penghujung hari (sebutlah malam), maka kita akan bisa mengintrospeksi apa saja yang telah kita lakukan pada hari tersebut. Sebab introspeksi itu penting, agar kita sadar atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan.

3. Pertahankan stamina spiritual Anda dengan ibadah-ibadah yang harus rutin dilakukan.

Standar minimal ibadah rutin yang harus kita lakukan adalah:
a. shalat berjamaah di masjid.
b. shalat sunnah rawatib minimal 10 rakaat.
c. shalat malam (tahajud dan witir)
d. membaca Al - Qur'an sejuz atau setengah juz atau seberapa pun yang kita bisa. Karena hakikat membaca Al - Qur'an bukanlah pada waktu luang, tetapi kita mesti meluangkan waktu untuk membacanya.
e. spesialkan suatu waktu untuk ibadah yang lebih maksimal kepada Allah. Misalkan pada hari A, kita mesti beristighfar 1000 kali, mesti membaca Al - Qur'an dua juz, mesti bersedekah dengan maksimal atau lainnya.

Ibadah itu akan membuat hati menjadi tenang, damai, dan tenteram. Lakukanlah segalanya dengan niat ikhlas karena Allah Ta'ala.

4. Luaskan pergaulan, perbanyak relasi.

Memperbanyak relasi (hubungan) itu penting. Jangan menjadi manusia kuper (kurang pergaulan). Jika kita mempunyai banyak relasi (kenalan) maka pengetahuan kita pun akan bertambah luas. Semakin luas pengetahuan yang kita miliki, maka semakin merasa bodohlah kita.

Betapa tidak, jika kita punya kenalan yang sudah bisa berkarya dan membanggakan nama Indonesia di luar negeri. Lah, kita berprestasi di dalam negeri pun belum bisa.

Banyaknya kenalan atau relasi yang kita miliki, maka akan memotivasi kita untuk berbuat baik lebih banyak lagi.

Nah, kira-kira empat poin di atas mesti kita terapkan sekarang juga dalam kehidupan sehari-hari. 

Bahwa jika kita ingin  menjadi pribadi yang luar biasa, maka kita mesti bertindak luar biasa juga!
Mau tidak mau, kita mesti meyakini hal tersebut.